Friday, June 16, 2017

Ternyata hal-hal berikut ini bisa mengurangi pahala puasa bahkan membatalkan

Assalamu’alaikum. Apa kabar gaes? Gimana puasanya, baik? Alhamdulillah. Semoga Allah menlancarkan puasa kita sampai selesai.

Ga kerasa kita telah berada di hari-hari terakhir Ramadhan. Memasuki waktu di mana emak-emak mulai masak mi instan atau telor dadar sebagai menu sahur sama buka. Iya, di momen ini rumah kebanyakan dari kita udah ga nyediain ayam, daging, takjil atau pun sirop. Malah ada yang ngegoreng telor tapi putihnya doang, karena kuningnya kepake buat roti kering bakal lebaran. Tapi jangan salah, telor sama mi instan punya taste sendiri, dua makanan ini adalah rahasia bertahan hidupnya manusia Indonesia, terutama anak kost. Ngaku deh gaes, lidah kita lebih menyukai telur dadar dari pada pitza, syusyi, atau lasagna with pepper and ban trek, apalah namanya itu.

Nah berkaitan dengan puasa, ternyata ada tuh perkara yang dapat mengurangi kadar pahala kita, bahkan sampai tingkat membatalkan. Mangkanya dengan senang hati saya akan men-sharing hal-hal yang harus kita hindari. Berikut point-pointnya:

Naik motor

Hah, ga salah ni? Nae motor bisa mbatalin puasa?

Jangan salah. Tentu saja naik motor bisa membatalkan puasa. Kalau misanya kita sengaja nabrak jualan mba-mba takjil, terus mbaknya marah dan ngajak ribut. Sedangkan kalau kita marah, maka pahala kita berkurang. Apalgi marah butuh energi, jadi kamu makan setelah marah, dan itu membatalakan puasa.

Main catur

Ya iyalah batal. Kita tahu, makan adalah salah satu pembatal puasa. Sedangkan dalam permainan catur bukan hanya kuda yang bisa kamu makan, raja ama benteng-bentengnya pun bisa kamu embat. Bayangin, makan benteng. Ta dum test...

Nyetrika

Rupanya menyetrika dapat mengurangi pahala puasa, bahkan membatalkan. Lha kok bisa? Iya, kalau misalnya kamu sengaja melewatkan pantat setrika yang panas ke jidat wakil kepala sekolah SMA Negeri 1 Palu. Maka dari itu saya tekankan kita tidak boleh melakukan ini.

Nonton TV

Nonton tipi harusnya kita kurangi, karena jaman sekarang tv lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Terutama channel tivi yang tayangannya jauh dari nilai-nilai keislaman. Tarolah channel tipi nasional itu mutarin kultum, kuliah semau antum. Tapi iklannya film India. Subhanallah. Selain itu, tv juga mutlak membatalkan puasa. Sekali lagi, mutlak. Kalau remotnya sengaja kamu telen.

Kumur-kumur

Nih, ini juga bahaya. Masih banyak orang yang bertanya kalau berkumur bisa membatalkan puasa, jadi kita ga perlu berkumur saat wudhu. Iya ga sih? Makanya saya saranin hati-hati kalau kumur-kumur gaes. Kegiatan ini bisa membatalkan puasa. Iya, batal. Kalau kumurnya pake kuah bakso.

Selow gaes, becanda dikit, biar ga tegang. Ya biar becandanya garing juga, sih. Tapi dont worry be happy, karena rumaysho.com udah nulis hal-hal apa saja yang menjadi kesalahan orang Indonesia saat berpuasa, serta perkara-perkara yang dapat membatalkannya. Cekidot: Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan.

Kalau menurut temen-temen, apa aja sih yang membatalkan puasa?

Friday, May 26, 2017

Pandangan negasonic tentang isbal

Tidak. Bukan. Judul di atas bukan berarti saya mau mengeluarkan fatwa. Saya bukan ustadz. Ya kalau kesannya gitu, maafin deng. Hehehe.

Oke langsung aja ke masalah isbal. Setau saya, isbal itu menjulurkan pakain dari atas ke bawah melewati mata kaki. Makanya kaos kaki ga masalah, karena dipake dari bawah ke atas. Kalau makenya dari atas turun, naik, turun, naik, beda lagi urusannya. Orang yang isbal disebut musbil.

Seperti yang kita tau, ada pro-kontra tentang isbal, terutama di kalangan orang kurang ilmu kayak saya. Ada yang bilang mutlak haram, sisi lain mengatakan boleh, asal tidak sombong. Tentu saja ini bikin orang seperti saya jadi tambah bingung. Sehingga kita bertanya-tanya, boleh ga sih isbal tapi somobong? Untungnya, sudah banyak yang mau berbagi secara rincih seputar masalah isbal. Nih, silahkan langsung klik link di samping: Benarkah Boleh Isbal Tanpa Sikap Sombong? atau, Hukum Celana Di Bawah Mata Kaki.

Bagi orang yang sadar ilmunya sedikit, pantas kalau kita mengambil kehati-hatian. Soalnya disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ancaman untuk orang yang isbal berat. Doi ga dilihiat Allah di hari kiamat kelak. Tidak diajak bicara, tidak dipandang, tidak disucikan, dan untuk mereka adzab yang pedih. Terus, Allah tidak suka sama musbil. Hih, ngeri yaw.

Tapi saya kan tidak sombong, pit.

Itu omongan klise. Padahal bisa kita liat dalam periwayatan Imam Ahmad rahimahullah, ada sahabat yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tegur karena dia isbal. Sahabat Nabi, hidup di jaman Nabi, dekat dengan Nabi, ketika Nabi melihat dia isbal, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tetap menyuruhnya menaikkan pakian. Apa yang sahabat tersebut lakukan? Mulai hari itu dia terus mengangkat pakainnya di atas mata kaki. Pertanyaan lain, apakah sahabat Nabi yang mulia ini sombong? Tentu tidak. Tapi tetap disuruh agar tidak isbal. Kita, sahabat bukan, kerabat bukan, jauh dari Nabi, disuruh naikin celana aja ga mau. Dan berharap masuk surga yang sama dengan Nabi. Wah, parah sekali kita.

Selain itu, kalau baca lagi bagaimana gaya berpakaian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ujung baju atau sarung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu sampai tengah betis, padahal beliau adalah orang paling bertakwa dan paling jauh dari kesombongan. Lantas kenapa kita ga menjadikan beliau sebagai panutan?

Kan ada hadits Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang diizinin untuk isbal.

Yoi, tapi kasusnya melorot pakeannya, tidak sengaja. Ketika melorot lagi, beliau berusaha menaikkan.

Tapi kan... anu... tidak sombong...

Mengambil sikap hati-hati tentu lebih baik. Ampun dah, ilmu kita cetek. Apa salahnya kalau kita mengangkat sedikit aja celana di atas mata kaki? Kaki kita putus? Tidak. Kaki kita berdarah? Tidak juga. Belum ada orang yang celananya cingkrang tiba-tiba dari kakinya keluar kapurung. Kalau bahasanya ustadz Firanda Andirja, "Apa sih susahnya? wong tinggal ninggikan celana sedikit. Kan masih tetap keren."

Begini deh. Mari mikir sejenak. Sama saja misalnya saya mau pergi ke sebuah toko pakai sepeda motor. Kebetulan hari itu tidak ada polisi, makanya boleh tidak memakai helm. Tapi, saya tetap pakai helm. Kenapa? Karena ketika saya tidak memakai helm ancamannya kepalaku ini bisa bocor.

Hati-hati lebih baik, gaes. Ditakutkan cuman lantaran kain di bawah mata kaki kita masuk neraka. Kan rugi banget. Sama kayak musik. Ya udah, kita tinggalin, soalnya ancamannya berat. Ne. Ra. Ka.

Sekarang sudah tahu hukumnya, paham dalilnya, masih merasa berat juga? Subhanallah. Noh, pake rok aja sekalian! Dari yang pernah saya dengar, tidak lain tidak bukan itu bisikan syaithan. Dan kata kuncinya cuma satu, lawan. Iya, dilawan. Syaithan cuma bisa bisikin, kalau kita tidak mau, dia bisa apa? Dia ngebisikin kita untuk berzina, lantas kita menolak, apa yang bisa dia lakukan? Udah sama kayak cewek-cewek sekarang, dalil sudah jelas, dari segi apapun berhijab syar'i jauh lebih aman, tapi tetap bilang, "Yang penting jilbabin hati dulu." et dah...

Memang awalnya agak aneh, itu karena belum biasa. Tapi kalau sudah terbiasa, terus kita melihat masih ada orang yang celananya menjulur hingga bawah, bisa jadi kita bakalan melototin kaki orang itu. Ini penyakit ikhwan jaman sekarang, mata kita udah kayak semacam isbal indikator.

Biasanya suka ada cibiran, "Bro, rumah banjir?" Kalau ada yang ngatain, sabar aja. Kalau bisa mendakwahkan dengan baik, kita jelaskan. Kalau emang belum mampu, biarin aja dia ngeledek, anggap transfer pahala sedang berlangsung.

Lagian, cuma lantaran cibiran kita jadi drop. Gegara ledekan kita langsung mau pindah agama, gitu? Ya elah cemen amat. Ingat orang dulu, bagaimana mereka berdiri di atas agama ini? Bukan cuma ledekan, bahkan penyiksaan fisik. Dalam sirah kita tahu bagaimana Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu dibawa ke padang pasir saat panas membakar, lalu dijemur di sana sambil tertindih batu besar. Sabar, kamu tidak sendiri. Silahkan jalan-jalan ke pengajian sunnah, supaya kamu lihat, ada kok anak-anak muda yang bisa keren tanpa harus isbal.

Jadi Intinya apa?

Isbal itu boleh.

Lha kok boleh?

Iya boleh. Boleh banget malahan. Boleh untuk cewek. Weka weka weka.

Saturday, May 20, 2017

Ternyata islam itu...

Akhir-akhir ini memang ada yang beda dari postingan-postinganku di instagram. Itu semua akibat sudah belajarnya saya tentang Islam. Kesadaran tersebut muncul pas saya pikir-pikir lagi tentang mati, apa yang mau saya bawa setelah ini, dan hal-hal seputarnya. Ini memang jadi perjalanan yang panjang untuk saya. Kalau sempat (dan tidak malas), saya bakalan share cerita-cerita itu di blog ini. Insya Allah.

Karena perubahan ini juga saya memutuskan untuk menghapus semua postingan blog yang lama. Rasanya ga enak aja, soalnya banyak postingan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Cerita dusta, lawakan ekstream, dan membuka aib. Well, itu pantas untuk dihapus.

Yang jadi pertanyaan, kok bisa sih saya berubah? Saya sendiri tidak tahu, hidayah memang milik Allah. Mungkin ini juga doa temen-temen. Padahal kalau dipikir, saya cuman mahasiswa tingkat awal biasa, lihat saja kegiatanku di kampus, tidak jauh-jauh dari markir motor, atau becanda sama mas siomay. Bedanya sama mahasiswa lain, saya tidak suka demo. Malah setelah dengar lagi ternyata demo ga boleh di Islam, haram.

Dengan ini saya tidak nyesal. Setelah belajar, saya malah menumukan ternyata Islam itu asyik. Iya, asyik. Agama mana lagi yang make sendal aja ada tuntunannya? Kaki kanan dulu, baru kaki kiri. Lalu bedanya dengan agama lain, semua aturan Islam punya dasar. Contohnya kenapa orang Islam puasa. Ya karena dalam Al-Qura'an di Surah Al-Baqarah ayat 183 dan seterusnya kita disuruh berpuasa. Kenapa muslim makan, minum pakai tangan kanan? Karena yang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan makan harus pakai tangan kanan. Pokoknya semua ada dasarnya, kenapa kita sholat, kenapa kalau masuk wc kaki kiri dulu, kenapa minum harus duduk, kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Islam itu logis karena punya dasar dalam syariatnya, makanya saya bangga jadi muslim.

Begitulah Islam. Herannya saya, kok bisa yah masih ada orang yang mau nambah-nambahin perkara ibadah dalam Islam? Yang ada tuntunannya aja belum pasti dikerjain. Cape deh...

Padahal misalnya dia ngikut dalil, ikut sunnah yang benar, ibadah itu jadi jauh lebih asyik. Dengan sunnah, rasanya tenang aja beribadah, karena kita punya dasar kenapa sholat harus begini, untuk apa saya lapar-lapar puasa. Saya pun setelah sadar,  baru nganggap rupanya ber-Islam itu mudah, kerjakan apa yang ada tuntuannya saja, ga usah ditambah, ga usah dikurang. Segampang itu.

Mungkin satu-satunya penyesalanku, rugi banget dah baru ngenal Islam yang asyik begini.

Kalu reaksi orang-orang sekitar mah ga usah ditanya. Dari mulai ledekan sampe dikatain teroris udah jadi makanan pokok istilahnya. Emang ada-ada saja respon ketika kita mulai meninggalakan hal-hal yang udah jadi kebiasaan kita. Ada yang bilang ini lah, itulah, enjoy saja. Mau satu dunia bilang apa, yang namanya muslim itu pendiriannya kuat. Seperti batu karang di laut, hantaman ombak seolah tidak berpengaruh terhadap dia.

Setelah semua cibiran, tentu tidak membuat saya berhenti belajar. Malahan waktuku sekarang lebih banyak dihabiskan dengan belajar dan belajar lagi tentang Islam. Kalau temen-temen mau, bisa langsung hubungi saya, kita bicara-bicara, sharing, lalu datang sama-sama ke majelis ilmu. Seperti apa yang biasa saya posting di Instagram. Kata orang, jemput hidayah.

Nah, kalau mau datang belajar, dekat-dekat ini ada pembahasan seputar fiqih Ramadhan di Masjid Al-Amanah, jalan Ki Hajar, Palu. Marlah, sama-sama kita ke sana.


Ngomong-ngomong Ramadhan, sisa menghitung hari kita bakalan memasukinya. Insya Allah. Temen saya Ragil, bilang, "Tidak dirasa. Padahal baru tahun kamarin kita puasa." Iyalah, gil. Emang bibirmu bukan bibirku.

Yang saya heran, jika sudah mau masuk bulan puasa, orang-orang suka gelisah dan nanya, "Kapan kita puasa?" Atau temen-temen juga sering nanya begini? Maka banggalah kamu bisa baca postingan ini, karena saya punya semacam kemampuan bisa tahu kapan awal puasa. Tidak, saya bukan dukun, bukan juga Kanjeng Dimas, apalagi Jackson Perangin-angin. Tapi, berdasarkan kemampuanku ini, bisa saya simpulkan kalau puasa itu mulainya pas tanggal 1 Ramadhan. Ta dum test...

Oke deng, kita siapkan diri menyambut bulan suci. See ya around gaes.

PS: Soal logo bendera di header itu bukan berarti saya anggota ormas Hizbut Tahrir Indonesia. Saya suka aja sama benderanya. Ga ada alasan yang kayak gimana-gimana. Hehehe. Dengar-dengar, belakangan mereka mau dibubarin. Insyaa Allah pembubaran mereka tidak mengganggu saya sama sekali.